Menurut sebagian ahli, gengsi tidak lain hanyalah mempertahankan kedudukan sosial.
Lantas pertanyaannya, apakah itu menjadi sesuatu hal yang buruk?
Bukankah manusia memiliki komponen istimewa di antara makhluk lain? Sebut saja akal, nafsu, dan perasaan.
Bagi saya, gengsi adalah bagian dari nafsu. Atau dengan kata lain keinginan terhadap suatu hal. Premis demikian akan menciptakan suatu konklusi sederhana, bahwa gengsi adalah hal yang wajar dan lumrah. Sebagai satu manifestasi keberadaan nafsu pada tabiat manusia.
Hanya saja, komponen akal juga memiliki porsi bijaknya. Setidaknya dengan akal, manusia akan mampu meredam rasa gengsi tersebut. Mengontrol kemauan nafsu dan lain sebagainya.
"Harus sadar diri" demikian bahasa lugasnya. Sadar diri dalam banyak hal. Terlebih tentang finansial, kondisi lingkungan, dan situasi.
Tadi malam saya mendapat notif menarik dari cuitan tokoh ulama NU ternama, KH Agoes Ali Masyhuri. Dalam cuitan itu beliau ngendikan, "Belajarlah hidup bahagia dengan menikmati apa yang Anda miliki, agar hidup sehat dan panjang umur."
Entahlah, semoga kalimat itu tidak sekedar menjadi indah dalam tulisanku saja. Melainkan juga terpatri kuat ke dalam prinsip hidup saya.
Semoga.
Komentar
Posting Komentar