Pelangi selalu ada. Ia akan terlihat saat kita mengarahkan pada sudut pandang yang tepat. Pun demikian tentang keindahan, ia bukanlah benda, melainkan hanya perihal persepsi atau tentang cara kita melihat.
Semisal, ketika dunia yang kita jalani terlalu kelam, kita cenderung menyalahkan situasi. Kita jarang berpikir bahwa alam seringkali meminta kita untuk melihat hal lain pada posisi yang berbeda. Seperti ketika sebuah pintu tertutup, bisa jadi di saat yang sama ada pintu lain yang terbuka. Sayangnya, kebanyakan dari kita terlalu lama memandangi pintu tertutup tersebut.
Saat jaringan seluler hilang, kita mendapatkan waktu yang banyak untuk membaca. Kembali kepada buku daripada sekedar rasa keluh yang terus terucap.
Lemari yang lenyap akan memberikan kelegaan bagi ruang gerak.
Sakit memang tidak nyaman. Tapi bukankah saat sakit kita akhirnya mendapatkan kesempatan untuk merenungi banyak hal. Kesehatan, kehidupan bahkan satu-satunya kepastian yang tidak ingin kita alami, kematian.
Sebaliknya, sehat memang nyaman. Tapi seringkali kita terjebak pada jutaan hal-hal sepele dengan kadar makna yang dangkal.
Kesenangan kerap menidurkan. Sementara penderitaan seringkali membangunkan.
Jadi setiap kita kehilangan sesuatu, apapun itu, apakah benda, orang terdekat atau kesehatan, pasti hadir sebuah ruang kosong yang menanti untuk diisi. Hanya saja semua tergantung pada diri kita masing-masing, ingin mengisi ruang itu dengan hujatan, sambatan atau syukur neriman (menerima).
Kediri dan sebuah perasaan yang sedang tidak baik-baik saja
Komentar
Posting Komentar