Langsung ke konten utama

SEKAPUR SIRIH WISUDA MAHAD ALY LIRBOYO 2020 (teks)

Mendengarkan lantunan sambutan dalam acara wisuda teman-teman mahasantri mahad aly lirboyo beberapa malam lalu. Membawa saya memasuki ruang kenangan masa lalu. Beberapa tahun saat saya dan kawan-kawan satu angkatan dikukuhkan sebagai wisuda pada malam yang penuh haru. Haru, karena akhirnya wisuda kami yang tertunda, bisa terlaksana pada malam itu. Haru bahkan juga sedih saat orang tua kami tak bisa melihat putra-putranya mengenakan seragam gagah khas berwarna biru.

Ah, ini bukan tentang nostalgia-nostalgia kembali. Bukan, bukan. Tapi satu hal yang membuat saya kadang tersenyum sendiri. Terekam secara samar, dua hari sebelum pelaksanaan wisuda, salah seorang panitia menghampiri saya. Meminta kepada saya untuk membuatkan teks pidato untuk sambutannya. Tentu saja, saya harus berpikir sedemikian lama. Mengingat bahwa selama ini saya tidak yakin bahwa tulisan-tulisan yang pernah saya buat adalah sesuatu yang indah, keren, bahkan istimewa. Rasa ketidakyakinan yang membuat saya lebih menyukai untuk membacanya sendiri tanpa harus mempublikasikannya. Entah karena rasa malu atau ketidakpercayaan yang sudah mematri ke dalam sikap saya.

Lagian, teks yang harus saya buat ini nantinya akan dibaca di panggung itu. Di hadapan para kiai dan para guru. Tentu kekhwatiran berkecamuk dengan rasa malu. Bahwa ini adalah tugas yang berat. Tapi semua itu kembali kepada prinsip khidmah, "Bukan tentang bisa atau tidak, tapi mau atau tidak."
Bismillah, dua ibu jariku perlahan menyentuh keybord dalam aplokasi notes di hp itu:

Assalamualaikum wr wb
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، 
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadrotal kuroma' wa masyaikhona al-izza, seganap masyaikh pondok pesantren lirboyo kota kediri.a bilkhusus panjenenanipun romo kiai haji muhammad anwar mansur dan romo kiai haji abdulloh kafabihi mahrus yang senantiasa kami ta'dzimi, dan selalu kami nantikan barokah dan doanya mengalir untuk kami. Juga kepada seluruh dzuriah pondok pesantren lirboyo yang selalu kami hormati.

Yang terhormat kepada segenap pimpinan madrasah hidayatul mubtadiin dan ma-had ali lirboyo yang telah hadir pada acara ini.
Tak lupa rasa hormat turut kami haturkan kepada segenap dewan mustahiqqin yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir pada malam yang berbahagia ini.

Kepada seluruh panitia yang turut mensukseskan acara wisuda kami. Kami memahami ada rasa kekecewaan dan keterpaksaan yang pernah kalian alami. Setahun lalu, saat acara yang sudah terancang sedemikian matangnya harus diundur sampai bisa kita laksankan malam hari ini. Namun kami yakin, semangat untuk tetap menjadikan seremonial malam ini menjadi acara meriah seakan tak luntur dan telah terbukti. Meski harus dilaksanakan secara ala kadarnya dengan beragam prosedur rumit yang harus dilalui.

Dan tak lupa, yang senantiasa kami banggakan kepada segenap teman2 wisudawan (nusantara dan autad) yang kami cintai.

Hadirin yang berbahagia!!
Tidak ada kata yang tepat untuk kami ucapkan selain rasa syukur dan terima kasih.
Syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dari sang maha pengasih.
Sampai di malam ini kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat, senang, dan bahagia yang saling tumpang tindih.
Sebab, malam ini menjadi momen bahagia yang akhirnya bisa kami raih. Sebagai bentuk pengukuhan menjadi seorang wisudawan yang selalu mengharap doa dan ridho dari para masyaikh.

Kami beridiri disini sebagai perwakilan teman-teman wisudawan Ma'had Aly yang hadir pada malam ini.
Tidak lain ingin mengungkapkan banyak kata maaf dan Jutaan terima kasih tanpa henti.
Terutama kepada segenap masyaikh lirboyo yang telah menjadi guru-guru kami.
Karena semua bimbingan,barokah, doa dan asehat-nasehat beliau adalah penuntun bagi perjalanan belajar kami selama ini.
Kami berharap, Barokah doa dari beliau-beliau senantiasa menjadi pengantar bagi perjalanan hidup di masa depan nanti.

Ungkapan terima kasih untuk segenap dewan pengajar nusantara dan autad senantiasa terucap tulus dari dalam hati.
Terima kasih tak terhingga atas gala jerih payah, pengorbanan waktu, dan kesabaran beliau-beliau dalam menemani belajar kami sekian tahun lamanya ini.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan kami. Juga atas sikap kenakalan dan ketidakpatuhan yang tak hanya kami lakukan sekali dua kali.
Dan mohon maaf, jika kami tidak bisa menghadiahkan kesempurnaan prestasi.

Berjuta-juta rasa terima kasih untuk orang tua kami mengalir tanpa henti.
Segala doa, sujud, air mata, juga pengorbanannya tak bisa terbalas oleh apapun pasti.
Meski tak bisa hadir untuk melihat kebahagiaan kami malam ini, namun doa agar panjenengan selalu dalam kesehatan, dalam lindungan Allah SWT tak henti kami lantunkan setiap hari.

Hadirin rohimakummullah!!
Mewakili segenap wisudawan (autad dan nusantara).
Kami memohon doa dari para guru, orang tua, dan para hadirin semua. Semoga kami bisa merasakan manfaat ilmu yang telah kami pelajari dan yang kami terima.
Dan pada akhirnya kami akan mampu untuk mengamalkannya.

Semoga nasehat untuk selalu ngadep dampar bisa kami laksanakan dengan sepenuh jiwa.
Menjadi penerus perjuangan para ulama-ulama (nusantara) 
Dan semoga, harapan agar kami diakui sebagai santri Simbah kiai abdul karim tidak hanya menjadi mimpi belaka.
Sekali lagi mewakili teman-teman wisudawan kami mengucapkan permohon maaf dan terima kasih yang tak terhingga.
Ungkapan terima kasih senantiasa kami curahkan epada semua pihak yang telah berjasa.
Seiring lantunan doa tulus kami, jazakumullah ahsanala jaza'.

Hadirin yang berbahagia.
Demikian sambutan dari kami mewakili teman-teman wisudawan semua.
Mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan perbuatan maupun tutur kata.
Baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Ihdinasshiratthal mustaqim tsummasalamualikum warahmatullahi wabarakatuh.

(tulisan dalam kurung saat itu tidak dibacakan saat di panggung, agar tidak ada pengkotak-kotakkan dalam seremonial wisuda yang digelar untuk dua angkatan itu) 

Tentu rasa bangga dan khawatir muncul begitu saja. Saat teks itu dibacakan dalam rangkaian acara oleh perwakilan panitia. Teks yang saya buat sendiri tanpa memohon arahan dan koreksi. Dan untuk pertama kalinya tulisan saya dibacakan di hadapan banyak orang dan orang-orang hebat tentunya. Namun ada sedikit rasa puas saat beberapa teman di samping saya berkata, "Pidatone kueren men koyo mata najwa sopo kui sing gawe."
Dalam hati saya berdoa, semoga ini menjadi langkah baik saya dalam membuat karya-karya berikutnya.

Maaf kalau dalam postingan ini, saya cukup narsis. Sesekali boleh, lah. Heu heu heu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.