Dari perjalanan waktu ke waktu. Dari satu malam ke malam yang lain. Dari sekian banyak penantian magrib menuju malam peraduan sepertiga malam. Rutinitas tahunan membangunkan setiap orang untuk menyantap hidang.
Berawal dari kebahagiaan menyambut kedatangannya sampai tiba di sepuluh hari terakhirnya.
Ramadhan hampir melambaikan tangan pertanda selamat tinggal. Saat sapa hilal satu syawal terlihat atau terhitung oleh mereka para ahli itu. Kemeriahan malam penuh suara lantunan Alquran, atau sekedar canda dari anak-anak para remaja di tiap-tiap masjid ataupun mushola, dan benyak kebahagiaan lainnya, akan segera menemui kesepiannya masing-masing.
Adakah kebiasaan manusia masih seperti sebelum-sebelumnya. Semangat ibadah mencari sedemikian banyak pahala lambat laun mengikis pada tiap minggu-minggu yang berlalu. Atau justru sebaliknya. Semangat yang mulai tergalakkan seiring kabar dari Nabi dan para ulama tentang Malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir ini.
Lailatul qadar, malam penuh rahasia. Tentang kebaikan yang bahkan lebih baik dari seribu bulan. Peristiwa lailatul qadar adalah nyata dan selamanya akan menjadi satu rahasia sepanjang kehidupan manusia di dunia. Tapi sayang, tidak semua umat muslim akan memperoleh keistimewaan tentang malam itu. Bahwa ia masih menjadi misteri, yang hanya didapatkan oleh orang-orang pilihan. Mereka yang tidak sekedar berharap namun juga berusaha mencarinya dalan kesiapannya masing-masing.
Mencari kebaikan yang terkandung dalam kesunyian. Kekhusyukan ibadah di masjid-masjid, di mushola-mushola, di makam para kekasih Tuhan, atau bahkan di rumah. Melalui jamaah sholat, beribadah di sepertiga atau bahkan di sepanjanh malam. Beriktikaf, berzikir, tadarusA Alquran, Qiyamullail, dan aktifitas-aktifitas shaleh, baik shaleh spiritual maupun ritual.
Maka tepat, jika kemudian malam misteri itu menjadi satu keistimewaan bagi umat Nabi Muhammad. Tentang rentang usia yang begitu singkat jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Maka Tuhan dengan segala kebaikan dan rahmat nya memberikan pahala ibadah sebagaimana yang dilaksanakan selama delapan puluh tiga tahun empat bulan. Atau bahkan melampaui usia sosiologis mereka yang sedemikian singkat pada umumnya.
Malam ganjil yang mana? Jawaban pun turut menjadi misteri. Lantas mengemuka ragam argumen dari para ulama-ulama hebat itu. Al ghazali dan abu hasan Asy Syadzili dengan kaidah penentuannya; ia bisa diprediksi dengan melihat kapan awal ramadhan terjadi. Bagi beberapa Ulama, lailatul qadar terjadi pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan masih banyak persepsi-persepsi lain mengemuka dari para ulama kita
Lailatul qadar tetaplah misteri. Bahwa pendapat ulama tidak lain bersemayam dalam koridor ijtihadi. Sungguh, Allah SWT merahasiakan keistimewaan malam itu kepada para hamba Nya. Kehendak Allah yang demikian tentu saja melahirkan hikmah yang pasti juga istimewa. Tersembunyi malam seribu bulan tak ayal sebagaimana dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Sehingga dengan penuh suka cita dan semangat menggebu, umat manusia menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh serta istiqamah. Di manapun dan kapanpun. Tidak sekedar pada satu tanggal dan satu malam saja.
Tentu saja, nilai-nilai aji mumpung haruslah dibuang jauh-jauh. Adalah bodoh jika merasa sudah beribadah di malam lailatul qadar, tidak perlu beribadah lagi di bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya.
"Bukankah ibadah di malam itu sudah seperti ibadah selama delapan puluh tiga tahun?" Maka persepsi demikian ini melahirkan satu dugaan. Bahwa nilai-nilai lailatul qadar tidak terletak pada ketentuan malam kapan ia turunLailatul Qadar itu diturunkan.
Melainkan tentang kepada spirit untuk mendekatkan diri kepada tuhan, menggapai ridhonya, semangat untuk berbenah diri; sebuah upaya yang terus-menerus untuk keluar dari kealpaan-kealpaan dan dosa yang sebelumnya sering kali dilakukan.
Sehingga output dari Lailatul Qadar tidak hanya berimbas pada bertambahnya catatan pahala di tangan malaikat saja, tetapi juga perubahan perilaku secara totalitas saat Ramadhan usai. Tentunyanuntuk perubahan yang lebih baik; tentang hubungan manusia dengan ibadah kepada Tuhannya, ataupun ketika berinteraksi terhadap sesamanya.
Maka, saatnya kita bertanya pada diri masing-masing. Sudah sedemikian sungguhkah ibadah kita di sepanjang ramadhan ini? Adakah kita mendapatkan kebaikan di malam agung penuh misteri itu?
Madiun,
25 Ramadhan1444 H
Komentar
Posting Komentar