Langsung ke konten utama

DERU HUJAN #01

Musim hujan di desa selalu datang dengan caranya sendiri, diam-diam tapi penuh cerita. Dari teras rumah, saya duduk dengan segelas kopi hitam yang mengepul dan sebatang rokok yang perlahan menyusut. Dari sini, hujan adalah seperti panggung teater besar. Segala macam kehidupan dimainkan di depan mata, sederhana tapi sarat makna.

Hujan turun pelan-pelan, membasahi atap seng yang mulai berkarat. Air menetes dari talang yang bocor, jatuh berirama ke dalam ember yang sengaja diletakkan di bawahnya. Di jalan kecil depan rumah, genangan air mulai terbentuk. Saya lihat beberapa anak-anak berlarian tanpa alas kaki, tak peduli tubuh mereka basah kuyup. Mereka tertawa, bermain genangan, seakan hujan adalah sahabat lama yang datang untuk merayakan kebahagiaan sederhana.

Di sisi lain, beberapa orang dewasa buru-buru menurunkan jemuran. Pakaian yang belum kering diambil tergesa-gesa, meski sebagian sudah terlanjur basah. Ada juga yang menyelamatkan karung berisi hasil panen, memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Semua dilakukan dengan ekspresi serius tapi tenang, seperti sudah terbiasa menghadapi kejutan yang dibawa hujan.

Motor-motor yang melintas di jalan desa itu tampak kesulitan. Ban belakang tergelincir di lumpur yang licin, memaksa pengendaranya turun dan mendorong dengan susah payah. Beberapa orang berhenti untuk membantu, meski hanya dengan canda kecil agar suasana tidak terasa berat. Bagi mereka, saling membantu di tengah repotnya hujan bukanlah sesuatu yang istimewa, melainkan bagian dari kebiasaan hidup di desa.

Di sawah yang terlihat dari kejauhan, hujan membuat pemandangan jadi lebih hidup. Air yang turun deras mengalir ke saluran irigasi, memenuhi lahan padi yang hijau. Bagi para petani, hujan adalah berkah yang dinanti, meski kadang datang dengan konsekuensi banjir atau tanaman ambruk sedemikian rusaknya

Saat hujan semakin deras, listrik pun mati. Gelap langsung menyelimuti kampung, hanya diselingi cahaya lilin dari jendela-jendela rumah. Tapi di sini, kegelapan bukan masalah besar. Orang-orang bisa duduk bersama. Di teras atau mungkin di dalam rumah. Bebagi cerita sambil menikmati makanan hangat. Suara hujan di atap bercampur dengan tawa dan obrolan sederhana.

Hujan akhirnya reda menjelang malam. Jalanan berlumpur, genangan air masih tersisa di sana-sini. Beberapa orang mulai membersihkan selokan yang tersumbat, memastikan air mengalir lancar. Aroma tanah basah menguar, bercampur dengan sisa asap dari dapur-dapur yang memasak.

Saya memandangi semua itu dari teras, merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan. Musim hujan di desa adalah pengingat tentang hidup yang terus berjalan meski penuh tantangan. Ada kerja keras, ada tawa, ada kebersamaan yang jarang terlihat di tempat lain.

Dari segelas kopi dan sebatang rokok yang menemani, saya belajar sesuatu: hujan bukan hanya air yang jatuh dari langit, tapi juga cara alam mengajarkan kita tentang ketangguhan, kebersyukuran, dan arti hidup bersama. Di desa ini, hujan adalah bagian dari cerita yang tak pernah usang, cerita yang selalu membuat saya ingin duduk di teras lebih lama.

Sayangnya, cerita-cerita menyenangkan itu sekarang menjadi semacam kenangan di masa lalu

Bersambung ... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.