Langsung ke konten utama

DEGRADASI MORAL

2045, Kemerdekaan Republik Indonesia mencapai satu abad. Satu momen epik bersejarah ditambah sebuah gagasan "Indonesia Emas 2024". Dengan visi menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, maju, adil dan makmur. Salah satu pilarnya adalah pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentu pilar ini dikhitob utamakan kepada para generasi muda negara ini. Sebagaimana dikutip dalam situs kompasiana, 
"Salah satu kunci utama untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 adalah dengan mempersiapkan dan membangun kepemimpinan pemuda yang kuat, berintegritas, dan visioner."

Membicarakan negara maju tentu tak melulu soal teknologi, sains dan perkembangan ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga tentang manusia beradab; revolusi moral. Sudahkan ada proyek besar untuk pembangunan manusia yang beradab? Bagaimana dengan akhlak generasi muda kita? Dengan karakter? Dengan rasa hormat yang seringkali kita temukan semakin menipis? 

Mari berbicara fakta tentang permasalahan pendidikan sekolah di negeri ini. Pendidikan yang seharusnya membentuk siswa berpengetahuan tinggi berlandaskan moral dan akhlak terpuji, seolah menjadi  arena bertahan hidup bagi para guru. 

Ya, dalam beberapa berita yang akhir-akhir ini santer muncul di sosial media, guru-guru kita sibuk merawat luka. Bukan luka karena lelah mengajar, tapi luka karena dipukul muridnya sendiri. Di Demak, seorang guru diancam dengan clurit. Di Gresik, seorang pendidik harus menerima patah tulang akibat amarah siswa. Di Lamongan, seorang guru hampir kehilangan jarinya karena golok gara-gara menegur soal sepatu. Para guru mencoba mendisiplinkan anak didiknya justru harus masuk dalam laporan kepolisian. Belum lagi tentang kekerasan seksual dan beragam problem lainnya. 

Ironis bukan? Menyaksikan beberapa generasi muda kita lebih mahir mengayunkan pukulan daripada menggerakkan pena. Lebih pandai mengancam daripada memahami pelajaran? Bahkan, di saat negara-negara maju dengan para ilmuwannya khawatir tentang AI menguasai dunia, di negara kita para guru takut dihajar muridnya sendiri. Pun pesatnya teknologi zaman sekarang tak sebanding lurus dengan pengetahuan mereka soal siapa tokoh bapak pendidikan Indonesia dan juga pengetahuan sejarah umum yang seharusnya mereka pelajari sejak di bangku SD (silahkan lihat di beberapa akun tiktok yang melakukan sosial eksperimen dengan menanyakan pengetahuan sejarah kepada anak sekolah). 

Tapi tentu saja, ini bukan salah siapa-siapa. Orang tua terlalu husnudzon dengan menganggap gadget sebagai pengasuh digital, melemparkan tanggung jawab ke sekolah.  Dan saat ada masalah, para guru disalahkan. Ditambah fakta menyedihkan saat para orang tua tidak terima atas sikap guru yang menegur anaknya saat melanggar aturan di sekolah.  "Kenapa anda tidak mendidik anak anda sendiri?" Tanya seorang guru kepada wali murid di dalam hati

Sekolah? Lembaga terbaik itu terlalu sibuk mengejar angka, lupa bahwa mereka harus mendidik manusia, bukan sekadar mencetak nilai. Toh berapapun hasil ujian, nilai bisa dinaikkan oleh para guru. Belum lagi para guru kita yang sibuk dengan protes atas gaji yang minim, seolah lupa betapa pentingnya memperhatikan moral anak-anak. Para guru yang harus terbebani oleh administratif yang tidak terlalu relevan, mengabaikan fokus utama mereka untuk menjadi seseorang yang benar- benar mendidik dan menjadi panutan. Mereka lebih memilih tak peduli kepada siswa yang nakal daripada harus berurusan dengan pihak berwajib. Cukup Masuk kelas, anak-anak kasih tugas. Memberi penjelasan? Hei, anak-anak itu harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk berpikir dan mengeksplorasi pengetahuan mereka sendiri lewat gadget ajaib itu.

Dan negara? Yap, negara terlalu sibuk membangun proyek-proyek besar, pamer anggaran triliunan. Sementara itu, sekolah-sekolah masih bobrok, fasilitas tak layak, dan budi pekerti dibiarkan membusuk. 

Akhirnya, boro-boro melatih robot berpikir seperti negara-negara maju, melatih dan mencetak anak-anak untuk memiliki rasa hormat dan adab kepada orang lainpun kita masih kesulitan.. 

Lantas, benarkah kita menuju Indonesia Emas? Atau justru kita sedang mempersiapkan diri untuk menuju zaman batu versi baru? Zaman di mana teknologi maju pesat, tapi manusianya makin primitif dan tak beradab. 

"Tapi itu hanya oknum, kan?" Renungku kemudian. 

Atau maksudnya Indonesia Emas 2045 Hijriyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.