Langsung ke konten utama

PANGGILAN CINTA DARI LIRBOYO

Februari dua ribu dua puluh lima, Kota Kediri menjadi saksi. Ribuan manusia dengan wajah-wajah lama, mendatangi kota ini. Bukan untuk keperluan bisnis, bukan untuk mencari hiburan, bukan sekedar bertemu kawan. 

Berbondong-bondong mereka mendatangi rumah asal, tempat mereka mendapatkan banyak ilmu, pengalaman dan keberkahan sejati. 

Selamat datang di Pesantren Lirboyo. Kota kediri turut menyambut kedatangan para alumni. 

Mereka datang atas panggilan hati. Panggilan cinta yang tak bertepi. Menguatkan kembali ikatan batin yang tak tampak mata. Tapi senantiasa mengakar dalam jiwa. Meninggalkan segala kesibukan di rumah untuk beberapa hari, meninggalkan pekerjaan yang seharusnya mereka jalani. Semua demi satu misi: keta'dziman terhadap Lirboyo adalah harga yang tak bisa ditawar lagi. 

Di sudut pesantren, di lokal-lokal kelas penuh ilmu, di kamar-kamar kayu tempat mereka merangkai mimpi dulu, 115 tahun Lirboyo berdiri kokoh. Satu abad Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien telah melahirkan para ulama tangguh. Maka serangkaian acara akbar di pesantren Lirboyo ini menjadi saksi, bahwa jejak-jejak sejarah perlu ditelusuri kembali.

Bukan sekadar nostalgia, bukan hanya sekilas cerita. Tetapi pertemuan dalam keberkahan. Jejak-jejak ilmu yang tetap bertahan.

Tak ada pungutan, tak ada paksaan,
tapi tangan-tangan memberi dengan keikhlasan,
Mengorbankan segala kepunyaan. Bukan karena untung, bukan karena sanjungan. Tapi karena yakin,  di setiap derma, ada keberkahan yang tak ternilai harganya. Bahwa berapapun nilai pemberian yang mereka berikan, tak sebanding dengan pemberian besar lirboyo yang telah memberi cahaya pada mereka dalam menjalani kehidupan. 

Di kehidupan yang dipenuhi manusia mengejar kuasa. Di tengah gemuruh ambisi manusia. Para alumni Lirboyo memilih satu jalan cahaya: ilmu yang menerangi kehidupan dunia dan akhirat mereka. 

Mereka tahu bahwa segala hal yang kini dimiliki; kehormatan, jabatan, maupum peran di masyarakat, adalah berkah dari bimbingan dan doa dari para Masyaikh. Dari berkah pesantren yang telah menanamkan bekal ilmu tak terkira. 

Maka, momen reuni akbar ini, bagi para alumni bukan sekedar melampiaskan tawa atas beragam nostalgia. Tapi sebagai momen  untuk kembali menautkan hati. Menguatkan ta'aluq kepada para guru, ilmu, dan mengais ridho ilahi. 

Dawuh sang murobbi, kh anwar manshur terpatri
"Jangan bosan mengajak kumpul para alumni. Sebab ada banyak keberkahan yang senantiasa bersemi."
Di momen mengharukan itu, Tak ada yang memamerkan gelar mapun jabatan, tak ada yang menonjolkan harta. karena di hadapan Lirboyo, mereka kembali menjadi santri biasa.

Di sela tawa dan cerita lama, ada forum musyawaroh yang sarat makna. Para alumni dalam naungan organisasi HIMASAL berkumpul merumuskan jalan. Sebagai upaya mewujudkan kontribusi alumni lirboyo bagi umat dan zaman. 
Tak ada honor maupun imbalan. Hanya tekad mengabdi tanpa batasan. Membawa pesan masyaikh yang abadi, "jadilah bermanfaat dimanapun kau berdiri."

Juga forum para alumni muda tak kalah menariknya. Tergabung dalam lembaga ittihadul muballighin lirboyo, para muballighin berdiskusi. Tentang dakwah sebagai peran abadi. Agar ilmu tak hanya bersemi, tapi tumbuh subur di bumi pertiwi. Manifestasi pesan Ngaji Dampar yai manab yang sederhana tapi penuh arti. 

Lalu dalam Puncak acara akbar, ratusan cahaya lampu berpendar. Ribuan santri, alumni, muhibbin dan masyarakat berkumpul. Di aula almuktamar, dilapangan, di setiap sudut area pesantren. Mengharap berkah doa dan nasehat indah dari para masyaikh. 

Sungguh, puncak acara ini tak sekedar seremonial belaka. Juga perenungan sejarah yang mendalam. 115 tahun perjuangan pondok pesantren lirboyo telah tertanam. refleksi atas amanah para masyaikh yang harus diteruskan. 

Dua buku sejarah diluncurkan. Kisah nyai dlomroh, istri sang muassis yang penuh inspirasi. Serta satu abad jejak madrasah hidayatul mubtadiin dalam mencetak para alumni yang mampu memberi manfaat di manapun ia berdiri. Juga sebagai warisan yang tak akan pernah lekang oleh zaman. 

Tapi bukan hanya di pesantren, keberkahan acara akbar ini juga menjalar ke seluruh kota kediri. Penginapan penuh, warung-warung ramai, ojek dan becak tak henti mengantarkan para alumni wira-wiri. Ah, reuni akbar lirboyo bukan sekedar membuka kenangan. Tapi gelombang yang menggerakkan. Membangkitkan ekonomi masyarakat menghidupkan kota. Menjadi satu bukti bahwa pesantren adalah salah satu sumber keberkahan nyata. 

Dan ketika serangkaian acara akbar ini berakhir, satu per satu alumni pulang. Mobil, motor, kereta, bus, pesawat membawa raga. tapi sejatinya, hati mereka tetap di lirboyo dan tak kemana-mana. 

Tidak sekedar keceriaan dan nostalgia haru. Mereka membawa pulang sesuatu. Keberkahan, doa, semangat baru.  Dan janji, bahwa jika Lirboyo memanggil, mereka akan kembali, dengan cinta yang tak terganti.

Tak peduli seberapa jauh melangkah, tak peduli seberapa tinggi jabatan. 
Para alumni tahu, bahwa di ujung segala perjalanan, pesantren Lirboyo tetaplah rumah, tempat hati selalu pulang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.